Skip to main content

Adik Kelas Yang Nekat

Siang itu, ada pelajaran Matematika. Della serta Tresno ribut saja siapa yg mau maju. Aku pun pasrah saja mendengar ocehan mereka.

“Gua no tujuh.” ujar Tresno.
“Gua yg no tujuh!” ujar Della.
“Gua no tujuh lah. Elo no lima.” ujar Tresno.
“Gua!” marah Della.
“Gua!” marah Tresno.
“Aku aja lah yg maju.” ucapku pasrah lalu berdiri.
“Tuh, si Caca dah mau maju.” ujar Della.
“Nanti no tujuh anda berdua bagi dua. Jangan berantem.” ucapku kesal.
“Iya.” ujar Della serta Tresno.

Pada ketika aku maju, tiba-tiba ada bunyi deheman.
“Ehem, ehem.” ujar kawan sekelas.
“Apaan sih?” tanyaku heran.
“Aish, tentu gara-gara aku berdiri sebelah Galang nih. Sebel deh.” batinku kesal.

Setelah bel pulang sekolah berbunyi, aku piket bersama Olive, Christo, Bintang serta Daffa. Christo merapikan meja, sedangkan aku serta yg lainnya menyapu saja. Selesai piket, kami pun pulang.

Aku tak pribadi pulang. Aku menantikan Cika, Sammy, Bima, Galang, serta Dani. Sudah lama aku menunggu, tetapi belum ada yg menghampiriku. Sammy dam Cika mengobrol lalu memanggil aku.
“Ca, madingnya mana?” tanya Cika.
“Nih!” ucapku sembari memperlihatkan masing yg aku bawa.
“Yes, akhirnya.” batinku girang.
“Besok aja ya, Ca.” ujar Cika.
“Hah!” ucapku sembari membuka mulutku lebar.
“Lalu, ini gimana?” tanyaku.
“Ya balikin lagi lah ke kelas.” ujar Cika lalu berangkat begitu saja.
“Aish! Udah capek-capek nungguin malah nggak jadi.” batinku kesal.

Aku pun mencari Lidya. Karena tak menemukan dia, aku pun menyeberang untuk pulang. Pada ketika telah menyeberang, tiba-tiba Lidya memanggilku. Aku serta Lidya menantikan Mikha serta Linda dijemput. Setelah Mikha serta Lidya dijemput, aku serta Lidya pulang berdua.

Setelah membeli jajan, kami pun jalan. Ternyata di sana ada angkot. Dan ada seseorang.
“Itu Zahra bukan sih?” tanya Lidya.
“Bukan lah. Orang itu pake baju biru (memang khusus kelas 7 serta 8 menggunakan baju biru dari sekolah, sedangkan kelas 9 masih menggunakan baju biru putih).” ucapku.
“Itu si Andi bukan?” tanya Lidya.
“Entah.” ucapku.

Saat telah dekat dengan jalan raya, aku baru tahu bila itu merupakan Andi.
“Owalah, si Andi toh.” ucapku.

Lalu, aku serta Lidya menyeberang jalan serta naik angkot tersebut.
“Hai, Kak.” sapa Andi.
“Hai juga, Di.” sapaku balik.
“Kak, saudara tertua kelas berapa?” tanya Andi.
“9.” ucapku.
“Kak, emangnya nggak sempat ketahuan apa bawa hp?” tanya Andi pada Lidya.
“Nggak hehehe.” ujar Lidya.
“Aku sempat loh ketahuan bawa hp. Waktu itu nggak tahu kalo hpnya kepencet hidup. Tahu-tahu, alarmnya nyala. Aduh, mampus aku.” cerita Andi.
“Dah tahu dari Orion.” ucapku.
“Eh, saudara tertua sempat jatuh pas main bola nggak?” tanya Andi.
“Pernah. Tapi nendang botol. Jatuh keduduk, sakit. Sampe nggak dapat berdiri.” ucapku.
“Oh. Pas aku jatuh nggak sakit sih. Cuman, darahnya keluar, kental banget. Pas disiram air, duh, sakit banget. Sampe kini belom kering juga lukanya.” ujar Andi.
“Iya. Tuh buktinya, belom kering juga.” ucapku.

Pada ketika orang-orang yg ada di bangku sebelah supir turun, angkot pun jalan. Namun, Andi dengan nekatnya berlangsung ke depan.
“Duduk di depan aja ah.” ujar Andi seusai duduk.
“Nekat banget tuh anak.” ucapku pada Lidya.
“Iya, nekat banget.” ujar Lidya.

Pada ketika Lidya turun, aku pun pulang berdua dengan Andi.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar