Skip to main content

Minum Rutin Teh Hijau Sebelum Tidur Bisa Menurunkan Berat Badan

Saya ingin berbagi cerita pendek tentang transvolusi saya untuk menurunkan berat badan. Dalam setahun, saya menurunkan berat badan sekitar 30 kg dari 120 kg menjadi 90 kg.


Pada awal program penurunan berat badan, saya hanya memiliki keyakinan bahwa apa yang saya lakukan harus bekerja. Saya berharap bisa mengubah penampilan saya. Mengapa?


Pertama, saya selalu dibandingkan dengan tetangga dan tetangga saya di rumah. Tepatnya mereka yang dulu gemuk tapi sekarang bisa lebih proporsional. Kasar "saat dia bisa dan Anda tidak bisa". Itu membuat saya merasa percaya diri dan termotivasi.


Yang kedua adalah tentang kesehatan. Dengan tubuh gemuk aktivitas ini sangat berat, nafas juga kerap ramai. Jika Anda ingin membeli pakaian juga sangat sulit untuk menemukan ukuran yang tepat.


Akhirnya saya memutuskan untuk menggabungkan diet karbohidrat dan diet golongan darah. Seminggu saya hanya makan nasi pada hari Jumat. Sisanya saya hanya makan lauk pauk. Selain itu, saya tidak lupa berhenti makan makanan gorengan, soda, makanan manis dan saya juga biasanya tidak makan malam.


Kebiasaan saya yang lain adalah untuk sarapan pagi saya menyediakan menu apel hijau. Lalu sebelum tidur saya juga selalu minum teh hijau. Tak ketinggalan saya selalu berolahraga senam selama 1 jam setiap hari.


Antioksidan yang dimiliki oleh teh hijau diketahui memiliki efek kuat pada reaksi inflamasi. Namun, harus diketahui bahwa kekuatannya bisa dikurangi jika teh dikonsumsi bersamaan dengan beberapa jenis makanan lainnya.


Peneliti Dr Matam Vijay-Kumar dari Penn State University mengatakan bahwa makanan dengan zat besi tinggi seperti brokoli, bayam, dan daging memiliki reaksi yang buruk dengan teh hijau. Alasannya karena besi bisa mengikat antioksidan yang ada sehingga manfaatnya akan hilang.


"Jika Anda minum teh hijau setelah mengonsumsi makanan tinggi zat besi maka komponen utama teh akan terikat pada zat besi. Bila terjadi maka teh akan kehilangan manfaat potensial sebagai antioksidan," kata Vijay-Kumar seperti dikutip dari DailyMail, Senin ( 14/3/2016).


Efek antara teh hijau dan besi diselidiki oleh Vijay-Kumar dengan melakukan percobaan pada tikus laboratorium dengan penyakit radang usus besar (inflammatory bowel disease / IBD) atau penyakit radang usus. Penyakit ini biasanya muncul dalam bentuk diare dan gejala kekurangan zat besi sehingga dokter umumnya meresepkan suplemen zat besi atau antioksidan juga.


Saat percobaan dilakukan, tikus yang mengonsumsi kedua suplemen ini sama sekali tidak memiliki efek signifikan. Dari situ peneliti bisa membuktikan bahwa komponen utama teh hijau disebut EGCG bila ditemui besi akan saling mengikat dan kehilangan tunjangan.


Laporan yang telah ditulis dalam jurnal American Journal of Pathology ini berharap kedepannya banyak pasien akan menyadari hal ini.


"Penting bagi pasien IBD yang mengonsumsi suplemen zat besi dan teh hijau untuk mengetahui bagaimana kedua nutrisi ini saling mempengaruhi satu sama lain. Informasi dari penelitian ini dapat membantu orang yang suka mengkonsumsi teh pada umumnya dan juga orang yang sengaja mengkonsumsi teh untuk obat penyakit, "Tutup Vijay-Kumar.

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar