Skip to main content

Cerita Bridge Berdarah

kali ini saja akan memberitahu wilayah tetangga di Gresik, Jawa Timur. Pada mistik yang sempat membuat warga di daerah saya sedang paranoid. Silakan baca ya.


Dalam Cerita Bridge Berdarah
Saya lahir di sebuah rumah sakit di kota solo beberapa orang menyebutnyadengan Surakarta, Jawa Tengah. Ayah saya bekerja di sebuah pabrik besar di kota Gresik, sehingga mungkin tidak ingin keluarga kami bergerak di Gresik. Ketika saya baru saja pindah usia 7 tahun.


Jalan menuju perumahan kami ada 2, yang pertama melewati pemakaman Sunan Giri (ketika melewati jalan ini, jarak menjadi jauh / rotate) sementara persimpangan jalan kedua lulus sebuahjembatan TOL jalan Surabaya-Lamongan. Tapi pada saat itu, tidak ada yang berani melewati malam iniketika karena orang yang melewati jembatan ini selalu dirampok dan dibunuh oleh mutilasi. karena reputasi jembatan yang orang memilih jalan memutar daripada kehilangan nyawa mereka.


Namun secara bertahap para perampok yang sering merampok dan memutilasi korban tidak lagi beroperasi (apakah sudah ditamgkap polisi atau telah dipanggil ilahi, tidak ada yang tahu) maka masyarakat sudah mulai berani melewati jalan ini.


Jalan telah benar-benar aman dari perampok sadis itu masih belum aman. Setidaknya dari roh-roh sana. wujudnya bukan bentuk Genderuwo, Pocong, Kuntilanak dan Suster Ngesot tapi sepotong nyata dari tubuh manusia seperti Kepala Menggelinding, tangan yang sedang menyeberang jalan, yang berjalan kaki sendiri, dll ...


Salah satu saudara saya tidak pernah mengelaminya .. Sebut saja dengan nama A ..


Ketika malam minggu. Seorang pria bersiap-siap meninggalkan rumah pacarnya yang kebetulan di desa seberang jembatan. Ketika berangkat, si A tidak mengalami hal-hal aneh karena di sepanjang jalan yang memutar. Semua berjalan normal saja. Tapi hal yang berbeda terjadi ketika si A kembali ke rumah.


Karena begitu larut malam ditambah Si A sakit perut tiba-tiba kemudian si A memutuskan untuk melewati jembatan. Meskipun si A telah diperingatkan oleh pacarnya sehingga tidak melewati jembatan tetapi karena perut sulit untuk berkompromi dengan modal "Bismillah" Orang A kembali.


Sesampai di atas jembatan, Si A berhenti. Bukan karena pemogokan, Kehabisan gas, tetapi berhadapan dengan preman atau apa, Si A berhenti karena tangan berjalan diblokir. Tangan berjumlah 6 yang sedang berlangsung "Ngesot" ke jalan di sana ...


Mungkin karena perut Si A mulas sudah, tanpa berpikir dia memenangkan tangan yang berjalan itu, dan mengangkut seberang jalan. Setelah itu si A langsung pulang.

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar